Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Malaikat dan Sahilna

terik matahari sore membias diteras belakang rumah ada tingkap angin terlepas di permukaan kolamku kilau dan sapuan riak menepi memberiku kata:     SAHILNA, SAHILNA... termangu aku memikirkan kata yang tak kumengerti ini. bagaimana kata menjelma menjadi ujud, itu yang kupahami namun kala kata tanpa ujud membentuk bunyi apa yang yang harus kumengerti?     SAHILNA is Sahilna. Sesuatu yang tidak ada telah menjadi ada. dan kemustahilan tak selalu mustahil. Ah, kecipak air dan kepak sayap angin meredakan kebuntuan pikir. kuhalau kata agar tak sempat mampir lagi di kolamku yang bening di sore ini.

brand-new me

bisakah aku meletakkan sehelai nafas ini di sini? di lembah tersunyi tetapi terang benderang ... sehelai nafas yang rapat menggenggam penat tanpa kata-kata menemu teman seperjalanan yang sia merebut seri cahaya menjadi hamparan kesedihan yang tak berwatas bisakah aku meletakkan sehelai nafas ini di sini? agar terjumput oleh garang matahari menjadi angin yang berlari ke sgala arah lalu Tuhanku berkata: tiba saatmu melepas smua yg kau punya.  Sangkal dirimu. akupun meletakkan nafasku perlahan, melipatnya dalam rapuh meninggalkannya tanpa sepatah kata lagi.