Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Komentar Malaikat dalam facebook

Teknologi merambat cepat ke dindingku, Lalu muncul wajahmu yang seribu juta kali menghuni dinding angkasa. Aku tak akan berteman denganmu, Karena, Satu alasan terutama: menyebut dan melihatmu adalah pamali. Hatiku sudah hancur terempas di dinding batu itu, Dan kian remuk; permainanmu adalah sumo. Banting, jegal, dorong dan lempar. Aku mencucurkan air mata dengan tak berdaya. Ya, aku kalah. Ya, aku berdarah-darah. Tak ada mahkota untuk pecundang. Jadi aku tutup dinding dengan sepasang mata yang menikam jahat. Kau sungguh jahat, desisku marah sekaligus putus asa. Ya, Tuhan biarlah keadilanmu yang menimbang. Tak akan ada peduli untuk orang sejahat itu. Karena ia tak penting sama sekali. Lalu wall kututup.

Malaikat dan Facebook 1

Sepi menggelegak, mencekik kata Berteman atau tak berteman? Pilihan sulit menimbang kendali kata kendali. Aku bertanya dan menjawab sendiri, Suatu hari saat alam raya membuka rahasia kata apakah engkau akan jengah dengan Takdir yang tak bisa kau genggam dengan nyata penuh kata? Bisa-bisa, air mata tak henti mengalir karena kata kehilangan hasrat Hanya air dan air yang keluar darimu, Karena senyatanya tubuhmu sebagian besar hanya air belaka. Jadi, padamkan api dengan airmu, Luruhkan kerasmu dengan airmu, Kau senyata batu yang membisu dalam kesaksian yang menyakitkan. Darah, penghianatan, kebohongan, kehinaan bukankah lama menginjak dan menjaringmu dalam kotak tak berpintu? Menjeritlah, kekasih jiwaku. Ruhmu berayun di angkasa terbang menemu rumah yang akan dituju, Tetapi kamu... kamu, jiwa dan hati yang ringkih: Senantiasa tersungkur terjerembab dalam kalimat tak bermartabat: sakit hati! Sedih!, marah! Mengapa tak henti kau menyesali semua kebodohanmu? Hidup sejati tak pernah menoleh...

Malaikat dan Out Bound (Stand up for the champion!)

Berdiri tegar,busungkan dada, kepalkan tangan,tatap ke depan! Aku telah memimpikan kemenangan ini lama, Aku berdiri menjadi pemenang. Berdiri melepas semua atribut kekalahan, Aku kian menyadari betapa berharga kemenangan menuju kesini. Ketika aku jatuh terpuruk, Bertahun untuk bangkit, memulihkan diri Kini. Tepuklah tanganmu: Air mataku menetes untuk kemenangan yang kumimpikan selalu. Pergi dari negeri kalah. Aku nomor satu kini! Sayap malaikat menerbangkanku dalam flying fox! Aku nomor satu kini! Teriakku dasyat membuang sampah yang menyumpal dada.

. Malaikat melukis Rasa dan Warna

Hamparan rasa itu melebar seluas langit Tangan dan jemari tak pernah cukup melipatnya. Rasa itu, Menggugah dan membangunkan Memandang keluasan langit bergradasi ragam warna Memberiku kata: rasamu beragam Hitam gelap, abu-abu,kemilau biru, jingga, kuning, putih. Tetapi tanyaku tetap kau biarkan sunyi: Apa warnamu sesungguhnya? Apa rasamu sesungguhnya? Kaupun berdesah penuh ejek: Seberapa penting kau tahu warna dan rasa sejatiku kalau matamu hanya mahir melihat yang terlihat?