Malaikat dan Facebook 1
Sepi menggelegak, mencekik kata
Berteman atau tak berteman?
Pilihan sulit menimbang kendali kata kendali.
Aku bertanya dan menjawab sendiri,
Suatu hari saat alam raya membuka rahasia kata apakah engkau akan jengah dengan
Takdir yang tak bisa kau genggam dengan nyata penuh kata?
Bisa-bisa, air mata tak henti mengalir karena kata kehilangan hasrat
Hanya air dan air yang keluar darimu,
Karena senyatanya tubuhmu sebagian besar hanya air belaka.
Jadi, padamkan api dengan airmu,
Luruhkan kerasmu dengan airmu,
Kau senyata batu yang membisu dalam kesaksian yang menyakitkan.
Darah, penghianatan, kebohongan, kehinaan bukankah lama menginjak dan menjaringmu dalam kotak tak berpintu?
Menjeritlah, kekasih jiwaku. Ruhmu berayun di angkasa terbang menemu rumah yang akan dituju,
Tetapi kamu... kamu, jiwa dan hati yang ringkih:
Senantiasa tersungkur terjerembab dalam kalimat tak bermartabat: sakit hati!
Sedih!, marah!
Mengapa tak henti kau menyesali semua kebodohanmu?
Hidup sejati tak pernah menoleh ke belakang!
Jadi kemarilah, jiwaku yang sedih, hatiku yang luka parah:
Sembuhkan dirimu sendiri!
Karena siapa kan peduli di dunia ini kecuali ruhmu yang berasal dari dataran agung
Penuh kasih tak berkesudahan?
Kasih yang mengampuni.
Kasih yang memberi,
Kasih yang tak mengimbal.
Belajarlah! Belajarlah lagi.
Komentar
Posting Komentar