Malam merajam sunyi langit gelap merenggut gemintang kesendirian merampok kata-kata lalu membuangnya di tanah basah hujan sehari-hari deras membanjir dengan bencana aneka rupa apa yang kau lamunkan, cintaku? gelegar langit menyapa dasyat. ah, hai, langit terang benderang,kataku berdaya: katakan satu hal padaku mengapa mimpi dan kenyataan tak lagi bisa dibedakan? Saat aku hilang ingatan akankah sgala malapetaka dan kesunyian ini bisa kau ikat di tempat yang tak ku kenal? Lalu aku menemu peta yang hilang dan menemu jalan pulang dengan segera? Langit mencemooh, kata-katamu bukan keajaiban membumbung seperti uap air yang keburu jatuh lagi ke tanah menjadi banjir dan bencana lalu kau baru bisa diam menatap hampa sgala benda disekelilingmu menjadi batu dan pasir rumahmu begitu kokoh, bukan semen dan batu tetapi ini: keluasan lantai pasir, dinding batu dan atap langit terang. usap kesunyian dan kehilangan dengan senyum ikhlas. malam memeluk tanpa kata dan aku sungguh merasa lelah. membiarkan ...