Felicita, Aku mesti pergi. Waktu dan tempat yang membawaku dalam kesadaran kini Bukanlah waktu dan tempatku yang senyatanya. Pemilikku menemu aku dalam rantai cinta diri yang kelewat parah. Katanya aku menjadi budak dari kepalsuan Suatu wadah indah dari roh jahat yang menggoda manusia miliknya. Aku percaya. Aku percaya sejatinya rohku mencerca. Bagaimana hati dibutakan mata. Bagaimana otak dibutakan hati. Sia-sia anganku. Aku tahu aku tak akan menemu kelegaan di mana pun di sini. Kelegaanku yang sempurna hanya rumah asalku Yang jauh melewati lapis kata dalam jutaan dimensii. Di sana, sesungguhnya aku bisa tertawa dan melompat seindah kijang. My real home.
JokTeng Jogjakarta Ada jeda sejenak merampas waktu dalam ingatan akan kotaku yang dulu lugu bertutur bisu kini merapatkan hati penuh rindu JokTeng di kotaku ketika awan tergenggam dalam terik ia bercerita tentang ragam jutaan cerita di langitnya yang biru tak lagi cerita menjalar lewati lalu lalang kabel kotaku tak pengap oleh rindu namun sesak oleh lalu lalang kata dalam berita berhentilah sejenak supaya kau beroleh sehamparan panorama yang mengisahkan masa, di mana kata menjelma menjadi serangkaian jejak membayangi jalan-jalan beraspal yang legit tercium matahari kemarau jejak itu bernama lampu merah JokTeng
jalan menuju rembang petang sekotak kata tersulap di antara kunang-kunang dan langit angin laut segenggam menebar dingin dalam riap rambut tanpa pita aku boleh menggigil dengan darah berlumur kata di bibir yang terkunci kesumat mendekam bagai harimau lapar di semak kegelapan mata pijar tak henti benci mengikutku bagai bayang tak sirna. aku berhenti. aku bertanya: kau belum lelah membenci di malam hendak berbaring? siapakah engkau demikian liar memuja kematianku? air mataku menderas menjadi sungai kesedihan. aku lelah, kataku berbisik. tetapi nyala api marahnya meruap merobek malam aku tak mengerti, kataku tersendat tercekik tanpa oksigen kau akan mati tanpa darah dan martabat: kudengar ia menyesah kata di telingaku yang menuli dan kemudian ribuan kunang-kunang datang mengerumuniku memberikan sayap-sayapnya: terbang terbang terbang aku terbang meninggalkan keriuhan dengan sekotak kata: kebencian tak akan bisa membunuhku. happy easter
Komentar
Posting Komentar