Malaikat dan Cerita Malam
Malam merajam sunyi
langit gelap merenggut gemintang
kesendirian merampok kata-kata lalu membuangnya di tanah basah
hujan sehari-hari deras membanjir dengan bencana aneka rupa
apa yang kau lamunkan, cintaku? gelegar langit menyapa dasyat.
ah, hai, langit terang benderang,kataku berdaya: katakan satu hal padaku
mengapa mimpi dan kenyataan tak lagi bisa dibedakan?
Saat aku hilang ingatan akankah sgala malapetaka dan kesunyian ini
bisa kau ikat di tempat yang tak ku kenal?
Lalu aku menemu peta yang hilang
dan menemu jalan pulang dengan segera?
Langit mencemooh, kata-katamu bukan keajaiban
membumbung seperti uap air yang keburu jatuh lagi ke tanah
menjadi banjir dan bencana
lalu kau baru bisa diam menatap hampa sgala benda disekelilingmu menjadi batu dan pasir
rumahmu begitu kokoh, bukan semen dan batu tetapi ini:
keluasan lantai pasir, dinding batu dan atap langit terang.
usap kesunyian dan kehilangan dengan senyum ikhlas.
malam memeluk tanpa kata dan aku sungguh merasa lelah.
membiarkan kantuk bersandar di sunyinya yang dalam.
Komentar
Posting Komentar