Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

Malaikat dan kunang-kunang

jalan menuju rembang petang sekotak kata tersulap di antara kunang-kunang dan langit  angin laut segenggam menebar dingin dalam riap rambut tanpa pita aku boleh menggigil dengan darah berlumur kata di bibir yang terkunci kesumat mendekam bagai harimau lapar di semak kegelapan mata pijar tak henti benci mengikutku bagai bayang tak sirna. aku berhenti. aku bertanya: kau belum lelah membenci di malam hendak berbaring? siapakah engkau demikian liar memuja kematianku? air mataku menderas menjadi sungai kesedihan. aku lelah, kataku berbisik. tetapi nyala api marahnya meruap merobek malam  aku tak mengerti, kataku tersendat tercekik tanpa oksigen kau akan mati tanpa darah dan martabat: kudengar ia menyesah kata di telingaku yang menuli dan kemudian ribuan kunang-kunang datang mengerumuniku memberikan sayap-sayapnya:  terbang terbang terbang aku terbang meninggalkan keriuhan dengan sekotak kata: kebencian tak akan bisa membunuhku. happy easter

Surat untuk Alethia

kota itu menjauh dari mata sejauh laju kata mengendara udara kau dan kotamu segumpal titik tak bertangan tak kan menjemba walau hati mengering hampa kau dan kotamu seperti rejaman menelikung ingatan akan puri hati yang sempurna tatkala aku pergi dan kau pergi siapa di sana? bukankah waktu menimbun abad dalam dekap sejarah yang menyita buku tetapi siapa sempat membaca, kala peristiwa menebar luka dan tak juga menyembuh malaikat membaca selarik sajakmu dengan parau: selama air sungai ini mengalir, aku selalu bersamamu.  Airnya masih terus mengalir sampai kini, tetapi kita sudah berubah.