Surat untuk Alethia

kota itu menjauh dari mata
sejauh laju kata mengendara udara
kau dan kotamu segumpal titik tak bertangan
tak kan menjemba walau hati mengering hampa
kau
dan
kotamu
seperti rejaman menelikung ingatan akan puri hati yang sempurna
tatkala aku pergi dan kau pergi
siapa di sana?
bukankah waktu menimbun abad dalam dekap sejarah yang menyita buku
tetapi siapa sempat membaca, kala peristiwa menebar luka dan tak juga menyembuh
malaikat membaca selarik sajakmu dengan parau:
selama air sungai ini mengalir, aku selalu bersamamu. 
Airnya masih terus mengalir sampai kini, tetapi kita sudah berubah.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Felicita

Malaikat dan kunang-kunang