Malaikat dan kunang-kunang

jalan menuju rembang petang
sekotak kata tersulap di antara kunang-kunang dan langit 
angin laut segenggam menebar dingin dalam riap rambut tanpa pita
aku boleh menggigil dengan darah berlumur kata di bibir yang terkunci
kesumat mendekam bagai harimau lapar di semak kegelapan
mata pijar tak henti benci mengikutku bagai bayang tak sirna.
aku berhenti.
aku bertanya:
kau belum lelah membenci di malam hendak berbaring?
siapakah engkau demikian liar memuja kematianku?
air mataku menderas menjadi sungai kesedihan.
aku lelah, kataku berbisik.
tetapi nyala api marahnya meruap merobek malam 
aku tak mengerti, kataku tersendat tercekik tanpa oksigen
kau akan mati tanpa darah dan martabat: kudengar ia menyesah kata di telingaku yang menuli
dan kemudian ribuan kunang-kunang datang mengerumuniku memberikan sayap-sayapnya: 
terbang terbang terbang
aku terbang meninggalkan keriuhan dengan sekotak kata:
kebencian tak akan bisa membunuhku.
happy easter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Felicita