Surat untuk Felicita
Felicita, Aku mesti pergi. Waktu dan tempat yang membawaku dalam kesadaran kini Bukanlah waktu dan tempatku yang senyatanya. Pemilikku menemu aku dalam rantai cinta diri yang kelewat parah. Katanya aku menjadi budak dari kepalsuan Suatu wadah indah dari roh jahat yang menggoda manusia miliknya. Aku percaya. Aku percaya sejatinya rohku mencerca. Bagaimana hati dibutakan mata. Bagaimana otak dibutakan hati. Sia-sia anganku. Aku tahu aku tak akan menemu kelegaan di mana pun di sini. Kelegaanku yang sempurna hanya rumah asalku Yang jauh melewati lapis kata dalam jutaan dimensii. Di sana, sesungguhnya aku bisa tertawa dan melompat seindah kijang. My real home.