Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Surat untuk Felicita

Felicita, Aku mesti pergi. Waktu dan tempat yang membawaku dalam kesadaran kini Bukanlah waktu dan tempatku yang senyatanya. Pemilikku menemu aku dalam rantai cinta diri yang kelewat parah. Katanya aku menjadi budak dari kepalsuan Suatu wadah indah dari roh jahat yang menggoda manusia miliknya. Aku percaya. Aku percaya sejatinya rohku mencerca. Bagaimana hati dibutakan mata. Bagaimana  otak dibutakan hati. Sia-sia anganku. Aku tahu aku tak akan menemu kelegaan di mana pun di sini. Kelegaanku yang sempurna hanya rumah asalku Yang jauh melewati lapis kata dalam jutaan dimensii. Di sana, sesungguhnya aku bisa tertawa dan melompat seindah kijang. My real home.

Malaikat dan Teroris

Aku menjemba di pagi buta. Tanganku merapat ke jantung hidupku. Aku tahu, detik-detik akan berlalu cepat menebar oksigen hidup yang sebisa-bisa terhirup. Puluhan snipper mengepung bukit, apakah nyawa bagimu? Kiloan peledak telah lantak diberbagai tempat, kau bertanya untuk apa nyawa melayang? Takkah kau mengerti, untuk mengerti orang tak harus melalui kata. Darah, ketakutan, asap potasium TNT bercampur mur baut menjadi pertanda: Perang terhadap hidup tak kan pernah sirna. Karena kamu tahu, Bagiku hidup adalah petaka. Gerak nafas motorik manusia adalah sia-sia. Upaya cita-cita tahta sejahtera adalah utopia. Jadi DOR DOR!BUM! Meledak di hening pagi. Tanganku masih merapat di dada, dengan kepala membuar jadi dua. Ah, kehidupan masih terhela tanpa dosa, Dan aku mengerti kini: sayapmu tak pernah pergi walau keras aku telah berusaha menampik kasihmu.

Malaikat dan Senyum

Apa kau tahu rasanya hidup tanpa senyum di pagi hari? Masalahnya sepele. Setiap pagi anggota keluargaku tak pernah bisa bangun tanpa teriakanku. Sekali, dua kali ,selalu lembut suaraku membangunkan mereka. Diselang seling membangunkan satu dan yang lain, menghasilkan teriakan yang bervariasi. Beberapa desibel lebih tinggi dari sebelumnya. Aku menjadi terbiasa berteriak, tentu tanpa senyum. Aku menjadi terbiasa cemberut, tentu juga dengan menanggalkan senyum. Sudah berapa tahun aku kehilangan senyum di pagi hari? Aku berusaha menghitung tetapi apa gunanya? Senyum tak bisa muncul dengan munculnya angka kehilanganku. Betul tho? Pagi itu, entahlah, mendadak aku mencari-cari senyumku yang hilang bertahun-tahun. Seorang malaikat datang mendekat membawakan berlapis-lapis senyum yang katanya bisa kupinjam bila aku memerlukannya. Aduh, wajahku menekuk lagi tanpa senyum. Pinjam? Aku ingin senyum itu menjadi milikku, bukan sekadar pinjaman. Malaikat menjawab dengan lembut, kau boleh m...

Malaikat dan Televisi

Ketuklah pintu, manisku. Aku pasti membuka tanpa ragu. Memang, seharian aku menunggumu dengan beritamu yang itu-itu Di depan televisimu, semua berita seperti berlomba meniru. Apa sih yang baru? Pembunuhan, korupsi, penghianatan, intrik,kebohongan, penipuan campur baur dengan berita ecek-ecek para sosialita dan selebrita ganti tas, potong kuku, ganti pacar atau pasangan. 24 jam sehari kau betah melotot di depan televisi hanya untuk mengetahui semua itu? Di sisimu, ada anak-anak yang perlu belajar menggunakan garpu dan pensil. Di sisimu yang lain, ada orang-orang yang perlu mendengar tawa renyahmu mengomentari karya-karya mereka. Roti kukus bantat, peyek kacang gosong atau sirup markisa yang benar-benar menyegarkan di hari yang panas. Sekarang kau benar-benar mengetuk pintuku. Aneh, hatiku melompat. Kau tak hendak berusaha menjadi bahan berita di televisi khan?