Malaikat dan Teroris
Aku menjemba di pagi buta.
Tanganku merapat ke jantung hidupku.
Aku tahu, detik-detik akan berlalu cepat menebar oksigen hidup yang sebisa-bisa terhirup.
Puluhan snipper mengepung bukit, apakah nyawa bagimu?
Kiloan peledak telah lantak diberbagai tempat, kau bertanya untuk apa nyawa melayang?
Takkah kau mengerti, untuk mengerti orang tak harus melalui kata.
Darah, ketakutan, asap potasium TNT bercampur mur baut menjadi pertanda:
Perang terhadap hidup tak kan pernah sirna.
Karena kamu tahu,
Bagiku hidup adalah petaka.
Gerak nafas motorik manusia adalah sia-sia.
Upaya cita-cita tahta sejahtera adalah utopia.
Jadi DOR DOR!BUM! Meledak di hening pagi.
Tanganku masih merapat di dada, dengan kepala membuar jadi dua.
Ah, kehidupan masih terhela tanpa dosa,
Dan aku mengerti kini: sayapmu tak pernah pergi walau keras aku telah berusaha menampik kasihmu.
Tanganku merapat ke jantung hidupku.
Aku tahu, detik-detik akan berlalu cepat menebar oksigen hidup yang sebisa-bisa terhirup.
Puluhan snipper mengepung bukit, apakah nyawa bagimu?
Kiloan peledak telah lantak diberbagai tempat, kau bertanya untuk apa nyawa melayang?
Takkah kau mengerti, untuk mengerti orang tak harus melalui kata.
Darah, ketakutan, asap potasium TNT bercampur mur baut menjadi pertanda:
Perang terhadap hidup tak kan pernah sirna.
Karena kamu tahu,
Bagiku hidup adalah petaka.
Gerak nafas motorik manusia adalah sia-sia.
Upaya cita-cita tahta sejahtera adalah utopia.
Jadi DOR DOR!BUM! Meledak di hening pagi.
Tanganku masih merapat di dada, dengan kepala membuar jadi dua.
Ah, kehidupan masih terhela tanpa dosa,
Dan aku mengerti kini: sayapmu tak pernah pergi walau keras aku telah berusaha menampik kasihmu.
Komentar
Posting Komentar