Malaikat dan Senyum

Apa kau tahu rasanya hidup tanpa senyum di pagi hari?


Masalahnya sepele. Setiap pagi anggota keluargaku tak pernah bisa bangun tanpa teriakanku. Sekali, dua kali ,selalu lembut suaraku membangunkan mereka. Diselang seling membangunkan satu dan yang lain, menghasilkan teriakan yang bervariasi.
Beberapa desibel lebih tinggi dari sebelumnya.
Aku menjadi terbiasa berteriak, tentu tanpa senyum.
Aku menjadi terbiasa cemberut, tentu juga dengan menanggalkan senyum.
Sudah berapa tahun aku kehilangan senyum di pagi hari?
Aku berusaha menghitung tetapi apa gunanya? Senyum tak bisa muncul dengan munculnya angka kehilanganku. Betul tho?
Pagi itu, entahlah, mendadak aku mencari-cari senyumku yang hilang bertahun-tahun.
Seorang malaikat datang mendekat membawakan berlapis-lapis senyum yang katanya bisa kupinjam bila aku memerlukannya.
Aduh, wajahku menekuk lagi tanpa senyum. Pinjam? Aku ingin senyum itu menjadi milikku, bukan sekadar pinjaman.
Malaikat menjawab dengan lembut, kau boleh memilikinya dengan kredit. Tiap hari cicilanmu adalah seulas senyum dengan bunga cemerlang di matamu.
Hahaha... akhirnya setelah setahun senyum itu benar-benar menjadi milikku. Merekah setiap pagi. Merekah sambil membawa segayung air untuk masing-masing yang enggan bangun pagi!

Komentar

  1. ternyata ibu berambisi untuk menyiramku...
    T.

    tapi puisinya bagus kok. ^^

    BalasHapus
  2. hahaha,

    puisi jenaka dari ibuku, penuh dengan sindiran,
    sayangnya dia tak bisa menyiramku...

    karna aku sudah merantau nan jauh..

    hehehee..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Felicita

Malaikat dan kunang-kunang