Malaikat dan Keheranan


Heran adalah kata yang tak cukup tepat untuk maksud ini. Tetapi, kata apa ya yang pantas untuk mewakili keterheranan ini.
Nah lho? Herannya kata heran bisa muncul dengan leluasanya.
Matahari sepenggalah tingginya. Jangan tanya panasnya macam apa. Sepertinya sayang membiarkan kulit gosong terpanggang matahari, tetapi heran aku membiarkan saja tanpa krim pelindung apapun.
Ya ampun, krim pelindung! Tabir surya. Kulit saja membutuhkan pelindung, bagaimana kamu. Nak? Hatimu yang berkelojot dalam kesumpekan bukannya karena terlalu tebal perlindungan yang melingkupinya? Seharusnya, bebaskan kesejatian rasamu menjadi aktualitas yang tak  perlu diherani apalagi diinterupsi  oleh ribuan kata: andaikan, andai kata, umpama, andai saja. Phuih! Betapa tidak ada originalitas berpikir dan berasa. Kamu seperti robot yang kebanyakan saklar!
Kamu mengerang dalam kesepian kata. Tak selembar huruf menepi untuk mengatakan padamu, betapa sia-sia segala hal yang terlihat oleh mata!
Lihat mata orang itu! Persis seperti got mampat yang tak berselera untuk keindahan dan wewangian. Hidupmu sumpek dipenuhi cita-cita tanpa kejelasan langkah. 
Phuih, aku sungguh ingin meludah melihat dirimu berkubang dalam kegoblogan rasa dan kata dalam got mampat itu!
Kemarahan dan kebencian bukan katup pembuka resah, bahkan akan makin membuat kamu konyol  sekonyolnya.
Tetapi diam, yoga, telepati, semadi, tafakur, doa, puasa, mati raga, mati rasa menjadi sublim untuk kasus sepertimu. Rohmu menari di langit tinggi, ragamu tersentak-sentak runyam di bawah matahari yang garang, jiwamu merintih-rintih getir ingin melepaskan pahit. Tetapi semua sia-sia.
Sehari adalah seribu tahun untuk jiwa yang mati tanpa bahagia. Lalu, otakmu berhenti berpendar tanpa nyala. Pergilah ke luar agar kau percaya. Banyak orang menjalani hidupnya dengan keserhanaan rasa. Sejati adalah kompleksitas dalam sederhana. Mencebur dari got mampat ke keruwetan lalu lintas pikir, dan hiruk pikuk sekeliling. Kamu seperti manekin yang salah taruh.
Aduh, tentu ini bukan upaya menghakimi atau menyalahkan sang kreator, hanya saja sulit dipahami keherannan yang tak pernah menemu jawab secara jelas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Felicita

Malaikat dan kunang-kunang