Malaikat dan Hujan

Hujan dini hari belum reda,
dingin menggigit ngilu pada tulang-tulang masa lalu:
ia belum pulang, serak dan gemetar suaranya
ditepis suara rinai hujan yang menderas
Tanah dan pasir tempatnya berpijak menggeliat,
air deras meluruhkan struktur tanah yang menggembur:
kakinya tak juga mampu beranjak:
tulang-tulang keropos susah untuk melangkah gegas.
Lihat, rambut serta  seluruh tubuhnya kuyup dalam gigil yang menggila.
Ia ingin pulang, tetapi malaikat belum jua menjemba di hujan dini hari.
Menunggu tanpa waktu terikat tonggak langit,
seperti memegang tali layang-layang yg bergerak brutal ditimpas angin kencang.
Ketaksabaran hanya akan membuat simpul dari tali-tali peristiwa makin kusut dan
melempar dia ke ruang gelap tanpa cahaya dan angin!
Ia akan mati tanpa sempat mengubah hujan menjadi tarian air menakjubkan.
Setidak-tidaknya ketakjuban bagi orang yang belum menemu rumah untuk pulang.
Tarian itu
Tarian hujan di dini hari yang sunyi.
dan ia akan sendiri menari sepi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Felicita

Malaikat dan kunang-kunang