Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Agnostik

Tatkala tubuh melepuh di kilometer 5, di mana tanganmu? Tatkala teriak kesakitan menggema setinggi langit, di mana dirimu? Tatkala segala terbakar, hancur, remuk, di mana bayangmu? Aku tergugu di pinggir pagar jurang ini: Bertanya sekali lagi, Di mana dirimu? Kemarahan, kesedihan, keputusasaan menjadi kredo. Dan kau diam, tak satu hurufpun untukku! Lalu, apa yg engkau mau dari peristiwa dan keadaan ini? agar kami beroleh hikmat? agar kami beroleh kesabaran? agar kami beroleh pengetahuan? Adalah kau satu-satunya pengharapan, Adalah kau satu-satunya tempat tujuan, Adalah kau satu-satunya jawaban. Oh, memang, tak guna menggugat, tak guna berbicara, tak guna mengaduh. Kau mencoba untuk menguji sekuat apa karyamu ini! Baik!! I'll show you, sekuat apa karyamu ini di sini.

Komentar Malaikat dalam facebook

Teknologi merambat cepat ke dindingku, Lalu muncul wajahmu yang seribu juta kali menghuni dinding angkasa. Aku tak akan berteman denganmu, Karena, Satu alasan terutama: menyebut dan melihatmu adalah pamali. Hatiku sudah hancur terempas di dinding batu itu, Dan kian remuk; permainanmu adalah sumo. Banting, jegal, dorong dan lempar. Aku mencucurkan air mata dengan tak berdaya. Ya, aku kalah. Ya, aku berdarah-darah. Tak ada mahkota untuk pecundang. Jadi aku tutup dinding dengan sepasang mata yang menikam jahat. Kau sungguh jahat, desisku marah sekaligus putus asa. Ya, Tuhan biarlah keadilanmu yang menimbang. Tak akan ada peduli untuk orang sejahat itu. Karena ia tak penting sama sekali. Lalu wall kututup.

Malaikat dan Facebook 1

Sepi menggelegak, mencekik kata Berteman atau tak berteman? Pilihan sulit menimbang kendali kata kendali. Aku bertanya dan menjawab sendiri, Suatu hari saat alam raya membuka rahasia kata apakah engkau akan jengah dengan Takdir yang tak bisa kau genggam dengan nyata penuh kata? Bisa-bisa, air mata tak henti mengalir karena kata kehilangan hasrat Hanya air dan air yang keluar darimu, Karena senyatanya tubuhmu sebagian besar hanya air belaka. Jadi, padamkan api dengan airmu, Luruhkan kerasmu dengan airmu, Kau senyata batu yang membisu dalam kesaksian yang menyakitkan. Darah, penghianatan, kebohongan, kehinaan bukankah lama menginjak dan menjaringmu dalam kotak tak berpintu? Menjeritlah, kekasih jiwaku. Ruhmu berayun di angkasa terbang menemu rumah yang akan dituju, Tetapi kamu... kamu, jiwa dan hati yang ringkih: Senantiasa tersungkur terjerembab dalam kalimat tak bermartabat: sakit hati! Sedih!, marah! Mengapa tak henti kau menyesali semua kebodohanmu? Hidup sejati tak pernah menoleh...

Malaikat dan Out Bound (Stand up for the champion!)

Berdiri tegar,busungkan dada, kepalkan tangan,tatap ke depan! Aku telah memimpikan kemenangan ini lama, Aku berdiri menjadi pemenang. Berdiri melepas semua atribut kekalahan, Aku kian menyadari betapa berharga kemenangan menuju kesini. Ketika aku jatuh terpuruk, Bertahun untuk bangkit, memulihkan diri Kini. Tepuklah tanganmu: Air mataku menetes untuk kemenangan yang kumimpikan selalu. Pergi dari negeri kalah. Aku nomor satu kini! Sayap malaikat menerbangkanku dalam flying fox! Aku nomor satu kini! Teriakku dasyat membuang sampah yang menyumpal dada.

. Malaikat melukis Rasa dan Warna

Hamparan rasa itu melebar seluas langit Tangan dan jemari tak pernah cukup melipatnya. Rasa itu, Menggugah dan membangunkan Memandang keluasan langit bergradasi ragam warna Memberiku kata: rasamu beragam Hitam gelap, abu-abu,kemilau biru, jingga, kuning, putih. Tetapi tanyaku tetap kau biarkan sunyi: Apa warnamu sesungguhnya? Apa rasamu sesungguhnya? Kaupun berdesah penuh ejek: Seberapa penting kau tahu warna dan rasa sejatiku kalau matamu hanya mahir melihat yang terlihat?

Surat untuk Felicita

Felicita, Aku mesti pergi. Waktu dan tempat yang membawaku dalam kesadaran kini Bukanlah waktu dan tempatku yang senyatanya. Pemilikku menemu aku dalam rantai cinta diri yang kelewat parah. Katanya aku menjadi budak dari kepalsuan Suatu wadah indah dari roh jahat yang menggoda manusia miliknya. Aku percaya. Aku percaya sejatinya rohku mencerca. Bagaimana hati dibutakan mata. Bagaimana  otak dibutakan hati. Sia-sia anganku. Aku tahu aku tak akan menemu kelegaan di mana pun di sini. Kelegaanku yang sempurna hanya rumah asalku Yang jauh melewati lapis kata dalam jutaan dimensii. Di sana, sesungguhnya aku bisa tertawa dan melompat seindah kijang. My real home.

Malaikat dan Teroris

Aku menjemba di pagi buta. Tanganku merapat ke jantung hidupku. Aku tahu, detik-detik akan berlalu cepat menebar oksigen hidup yang sebisa-bisa terhirup. Puluhan snipper mengepung bukit, apakah nyawa bagimu? Kiloan peledak telah lantak diberbagai tempat, kau bertanya untuk apa nyawa melayang? Takkah kau mengerti, untuk mengerti orang tak harus melalui kata. Darah, ketakutan, asap potasium TNT bercampur mur baut menjadi pertanda: Perang terhadap hidup tak kan pernah sirna. Karena kamu tahu, Bagiku hidup adalah petaka. Gerak nafas motorik manusia adalah sia-sia. Upaya cita-cita tahta sejahtera adalah utopia. Jadi DOR DOR!BUM! Meledak di hening pagi. Tanganku masih merapat di dada, dengan kepala membuar jadi dua. Ah, kehidupan masih terhela tanpa dosa, Dan aku mengerti kini: sayapmu tak pernah pergi walau keras aku telah berusaha menampik kasihmu.

Malaikat dan Senyum

Apa kau tahu rasanya hidup tanpa senyum di pagi hari? Masalahnya sepele. Setiap pagi anggota keluargaku tak pernah bisa bangun tanpa teriakanku. Sekali, dua kali ,selalu lembut suaraku membangunkan mereka. Diselang seling membangunkan satu dan yang lain, menghasilkan teriakan yang bervariasi. Beberapa desibel lebih tinggi dari sebelumnya. Aku menjadi terbiasa berteriak, tentu tanpa senyum. Aku menjadi terbiasa cemberut, tentu juga dengan menanggalkan senyum. Sudah berapa tahun aku kehilangan senyum di pagi hari? Aku berusaha menghitung tetapi apa gunanya? Senyum tak bisa muncul dengan munculnya angka kehilanganku. Betul tho? Pagi itu, entahlah, mendadak aku mencari-cari senyumku yang hilang bertahun-tahun. Seorang malaikat datang mendekat membawakan berlapis-lapis senyum yang katanya bisa kupinjam bila aku memerlukannya. Aduh, wajahku menekuk lagi tanpa senyum. Pinjam? Aku ingin senyum itu menjadi milikku, bukan sekadar pinjaman. Malaikat menjawab dengan lembut, kau boleh m...

Malaikat dan Televisi

Ketuklah pintu, manisku. Aku pasti membuka tanpa ragu. Memang, seharian aku menunggumu dengan beritamu yang itu-itu Di depan televisimu, semua berita seperti berlomba meniru. Apa sih yang baru? Pembunuhan, korupsi, penghianatan, intrik,kebohongan, penipuan campur baur dengan berita ecek-ecek para sosialita dan selebrita ganti tas, potong kuku, ganti pacar atau pasangan. 24 jam sehari kau betah melotot di depan televisi hanya untuk mengetahui semua itu? Di sisimu, ada anak-anak yang perlu belajar menggunakan garpu dan pensil. Di sisimu yang lain, ada orang-orang yang perlu mendengar tawa renyahmu mengomentari karya-karya mereka. Roti kukus bantat, peyek kacang gosong atau sirup markisa yang benar-benar menyegarkan di hari yang panas. Sekarang kau benar-benar mengetuk pintuku. Aneh, hatiku melompat. Kau tak hendak berusaha menjadi bahan berita di televisi khan?